Banten

Babak Akhir Kasus Ijazah Jokowi: Dr. Tifa dan Roy Suryo di Ujung Tanduk! Akankah Dipenjara?

Abdurahman | 25 Mei 2026, 23:35 WIB
Babak Akhir Kasus Ijazah Jokowi: Dr. Tifa dan Roy Suryo di Ujung Tanduk! Akankah Dipenjara?
Ilustrasi Dr. Tifa dan Roy Suryo (dok ist)

AKURAT BANTEN– Atmosfer hukum dan politik di tanah air kembali memanas, bahkan berada di titik didihnya.

Perhatian publik kini terkunci pada satu pertanyaan besar yang paling mendebarkan: bagaimana nasib akhir dari pakar telematika Roy Suryo dan kritikus vokal dr. Tifauzia Tyassuma alias dr. Tifa? Akankah mereka benar-benar berakhir di balik jeruji besi?

Kasus dugaan fitnah terkait tudingan ijazah mantan Presiden Joko Widodo ini bukan lagi sekadar polemik di media sosial.

Kasus ini telah menggelinding ke ranah hukum riil dan kini berada di persimpangan jalan yang sangat menentukan.

Bagi Roy Suryo dan dr. Tifa, posisi mereka saat ini benar-benar di ujung tanduk.

Nasib mereka kini digantungkan pada dua opsi mutlak dari kejaksaan: P21 (berkas lengkap dan siap disidang yang membuka peluang penahanan) atau SP3 (surat perintah penghentian penyidikan).

Baca Juga: Ketar-ketir Roy Suryo Masuk Penjara? Refly Harun Tegas Minta Kasus Ijazah Jokowi Dihentikan Oleh DPR

Ancaman Penjara di Balik Ketukan P21

Dari sudut pandang hukum formil, desakan agar berkas perkara kedua tokoh ini segera dinyatakan lengkap (P21) terus bergulir kencang dari kubu pelapor.

Mereka menilai, bukti-bukti yang dikantongi oleh penyidik kepolisian sudah lebih dari cukup untuk menyeret kasus ini ke meja hijau.

Jika Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta resmi menyatakan berkas perkara ini P21, maka skenario buruk mulai membayangi Roy Suryo dan dr. Tifa.

Mengapa? Karena status mereka akan berubah dari tersangka di kepolisian menjadi terdakwa di pengadilan.

Pada tahap pelimpahan tahap dua (penyerahan tersangka dan barang bukti), jaksa penuntut umum memiliki kewenangan penuh untuk melakukan penahanan demi kelancaran persidangan.

Bagi para pendukung penegakan hukum, langkah ini dianggap perlu sebagai terapi kejut (shock therapy) agar ruang digital tidak dijadikan sarana penyebaran kabar yang belum terbukti keabsahannya.

Pertanyaan 'Akankah dipenjara?' bukan sekadar drama, melainkan konsekuensi logis jika kasus ini lolos ke tahap P21. Di satu sisi, penahanan akan dilihat sebagai ketegasan hukum tanpa pandang bulu. Namun di sisi lain, jika proses ini dianggap dipaksakan tanpa bukti materiil yang tak terbantahkan, wajah keadilan kita taruhannya.

Baca Juga: Jokowi Siap Penjarakan Roy Suryo Cs, Ijazah Jokowi Asli Dibawa ke Persidangan 'Dari SD Sampai Kuliah Lengkap'

Perlawanan Sengit: Menuntut Bebas Lewat SP3

Namun, jalan menuju jeruji besi tentu tidak semulus itu. Kubu Roy Suryo dan dr. Tifa, didukung oleh barisan aktivis, pengamat, dan pakar hukum, melakukan perlawanan yang tidak kalah sengit. Mereka bersuara lantang bahwa kasus ini harus dihentikan atau di-SP3.

Ada beberapa alasan kuat di balik desakan ini.

Pertama, tim hukum mendeteksi adanya kejanggalan prosedural, mulai dari polemik Surat Perintah Penyidikan ganda (double sprindik) hingga pergeseran pasal yang disangkakan.

Kedua, ada aroma disparitas atau tebang pilih yang dirasakan publik.

Muncul sentimen kritis di masyarakat: mengapa figur lain yang terseret dalam pusaran kasus serupa bisa melenggang bebas melalui jalur damai (restorative justice), sementara Roy Suryo dan dr. Tifa yang konsisten pada sikapnya terus dikejar hingga ke ujung hukum?

Bagi kubu ini, SP3 adalah harga mati untuk membuktikan bahwa hukum tidak sedang digunakan sebagai alat kekuasaan untuk membungkam pengritik.

Baca Juga: Berkas Kasus Ijazah Jokowi Dikirim Lagi ke Kejati, Roy Suryo Cs atau Joko Widodo yang Masuk Penjara Pakai Rompi Penjahat?

Menanti Babak Penentuan

Kini, bola panas sepenuhnya berada di tangan kejaksaan. Dilema ini sungguh berat.

Jika berkas dinyatakan P21 dan berujung pada penahanan, gelombang protes atas nama kebebasan berpendapat dipastikan akan mengguncang ruang publik.

Sebaliknya, jika SP3 diterbitkan, sebagian pihak akan menuduh institusi penegak hukum goyah oleh tekanan opini makro.

Satu hal yang pasti, kasus ini sudah melompat jauh dari sekadar urusan ijazah.

Ini telah menjadi ujian krusial bagi masa depan demokrasi dan supremasi hukum di Indonesia.

Apakah Roy Suryo dan dr. Tifa akan mengenakan rompi tahanan, atau justru melangkah keluar dengan surat bebas SP3?

Publik kini menanti dengan napas tertahan.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman